Guru Kehidupan

Standard

Terik panas matahari begitu menyengat siang itu. Suara asam lambung seolah memberi isyarat waktunya makan siang. Bergegas aku keluar kantor untuk mencari makan siang di warung terdekat. Arah laju kendaraanku terhenti di warung yang sangat sederhana. Meski sederhana, warung tersebut terlihat bersih dan nyaman. Segera, aku memesan satu porsi buat makan siang. Tak lama pesanan itu telah siap saji. Penjualnya yang ramah membuat warung ini tak pernah sepi dari pembeli. Bu Sum, begitulah para pelanggan yang sering makan di warung itu memanggilnya. Ada beragam menu masakan yang tersedia di warung itu, mulai dari nasi pecel hingga makanan yang berkuah. Masakan Bu Sum bisa dibilang tidak sesederhana warungnya. Hampir semua menu yang tersaji di warung tersebut mampu menggoyang lidah.

Saat itu, setelah makan. Aku sempat melakukan obrolan ringan dengan Bu Sum. Spontan aku bertanya, sudah berapa lama ibu jualan nasi? Kurang lebih sudah 30 tahun mas, begitu jawabnya. Pertanyaanku yang singkat itu seolah memantik, perjuangan Bu Sum dalam menjalankan profesinya sebagai penjual nasi. Pasang surut pelanggan tidak membuat Bu Sum patah semangat untuk mencari nafkah buat menghidupi keluarganya. Maklum, suami Bu Sum sudah tua dan sudah lama tidak bekerja, sehingga Bu Sum yang menjadi tulang punggung keluarga. Dalam obrolan itu tak sengaja, Bu Sum mengisahkan perjuangannya agar dapat menyekolahkan dua anaknya melalui usaha jualan nasi.

30 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula ia bekerja keras membanting tulang sejak pagi buta hingga malam hari. Tiap pagi sekitar pukul 03.00 WIB Bu Sum telah memulai aktifitasnya untuk cuci-cuci peralatan dapurnya di tengah kedua anaknya yang masih terlelap tidur hingga menjelang subuh. Pergi ke pasar untuk belanja keperluan jualannya ketika hari masih gelap pun sudah menjadi kebiasaan Bu Sum. Sejak pagi hingga malam seolah tak kenal lelah berjualan demi dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Tak heran aktifitas yang sangat menguras tenaga itu, adakalanya membuat Bu Sum kecapekan hingga butuh istirahat dan tidur sejenak di siang hari ketika tidak ada pembeli. Walau hanya bermatraskan kursi panjang yang ada di warungnya ia mampu istirahat dengan pulas. “Maklum mas, sudah sejak dini hari bangun kemudian harus julan mulai pagi hingga malam, kadang ya ngantuk berat sehingga tidur seadanya” begitu katanya sambil tersenyum.

Menghidupi keluarganya dengan berjualan nasi, adakalanya tidak mencukupi. Meski begitu Bu Sum tetap memberikan harga yang murah dengan porsi yang banyak dengan beragam lauk pauk. Tak heran jika banyak dari pelangga Bu Sum adalah para pedagang kaki lima. Hal ini dikarenakan harganya terjangkau dengan kualitas rasa yang nikmat. Untuk menambah penghasilan, tak jarang Bu Sum juga rela mengumpulkan botol-botol bekas air mineral yang sudah tidak terpakai serta serpihan paku-paku. Maklum, di warung adakalanya botol-botol air mineral dalam kemasan yang seringkali menjadi sampah, perlahan sampah-sampah kering itu ia kumpulkan untuk dijual ke rombeng (pemulung). Demikian juga dengan paku-paku yang telah terkumpul banyak, hasil dari mengais di dapur, yang masih menggunakan tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Kayu-kayu yang menjadi bahan bakar tungku itu adakalanya masih tertancap paku-paku, setelah kayu itu menjadi abu barulah ia mengambil paku-paku yang ada itu dengan berbekal magnet, hingga terkumpul paku yang banyak dalam tiap bulannya. Hal ini pun juga tidak memberikan tambahan pemasukan yang signifikan mengingat hal tersebut tidak dapat diandalkan karena memang tidak setiap saat ada botol maupun paku.

Meski hanya mengandalkan jualan nasi sebagai sumber penghasilan, Bu Sum mampu menyekolahkan kedua anaknya bahkan hingga ke perguruan tinggi. Bisa dibayangkan hidup di kota besar dengan dua orang anak sementara suaminya sudah tidak bekerja. Bu Sum mampu tetap tegar menghadapi kerasnya kehidupan melalui jualan nasi. Memang akan selalu ada jalan bagi setiap niatan baik seseorang yang diikuti dengan usaha yang baik. Bu Sum memang berasal dari keluarga sederhana, bahkan ia pun tak pernah mengenyam pendidikan alias tak pernah sekolah sementara suaminya hanya seorang lulusan sekolah rakyat. Namun kegigihannya dalam bertekad agar dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi patut diacungi jempol, walau hanya bermodal jualan nasi.

Bu Sum memang tergolong orang yang ramah dan ringan tangan. Mungkin dari situlah banyak orang yang peduli dengannya. Meski, ia tergolong keluarga sederhana, namun ia selalu sempat berbagi kepada sesama. Keahliannya membuat racikan bumbu pecel pun dimanfaatkannya untuk memberi orang-orang tertentu yang telah memperhatikan keluarganya. Memang ada sekian banyak orang yang sangat membantu kehidupannya, orang-orang itulah yang sering kali Bu Sum usahakan memberikan bumbu pecel buatannya sebagai rasa terima kasih atas bantuan orang lain terhadap tetangganya.

Bu Sum juga mengisahkan, bahwa tetangganya juga banyak yang amat peduli dengannya. Memang kediaman bu Sum bisa dibilang belum representatif buat keluarganya namun apa mau dikata memang keadaan itulah yang harus ia jalani. Walau hidup di zaman modern, bu Sum juga belum memiliki listrik serta air PDAM sendiri di rumahnya, namun karena kepribadiannya yang ringan tangan, ada tetangganya yang memberikan sedekahnya berupa pemasangan listrik dan air pam tersebut. Tidak hanya itu kehidupan bu Sum juga banyak terbantu dengan kehadiran tetangga yang juga peduli kepadaya.

Meski tergolong keluarga sederhana dan tak pernah mengeyam pendidikan sekolah, bukan berarti Bu Sum tak bisa mendidik anaknya agar menjadi orang. Terbukti, kedua anaknya bisa dibilang sebagai anak yang baik, minimal tidak menyusahkan orang tuanya dan mampu mandiri meski orang tuanya tergolong orang yang tak punya. Masih teringat dalam benakku ketika Bu Sum sempat melontarkan filosofi hidupnya, “Urip kuwi sing penting sehat lan iso ngibadah” (Hidup itu yang penting sehat dan bisa beribadah). Itulah yang menjadi pegangan hidupnya. Kesehatan sebagai nikmat dari Tuhan tidak pantas untuk di sia-siakan dengan bermalas-malasan. Hendaknya nikmat itu menjadi modal ibadah mengabdi pada sang khalik serta menebar manfaat pada sesama. Hal inilah yang selalu di tanamkan pada anaknya sebagai bekal menapaki kehidupan.

Sungguh, obrolan ku dengan Bu Sum seolah mendapat pelajaran yang penting berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan. Pelajaran tentang arti kerja keras, kesabaran, keikhlasan aku dapatkan dari sosok yang tak pernah bersekolah di ruang kelas, namun ia bersekolah di ruang kehidupan. Itulah yang ku rasakan. Memang belajar tidak hanya terbatas pada sekat-sekat kelas melainkan kehidupan ini adalah sekolah yang tak bersekat. Demikian juga, setiap orang adalah guru, darinya kita dapat mengambil setiap pelajaran sebagaimana aku telah mengambil pelajaran dari seorang guru kehidupan yakni Bu Sum. Terima kasih Bu Sum.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s