Sang suami dan kucing kesayangannya

Standard

Alkisah ada sebuah keluarga yang tinggal di suatu pelosok desa. Di rumah yang sangat sederhana itu hiduplah sepasang suami istri. Rumah tersebut sering terasa sepi, karena memang sudah lama keduanya belum dikarunia keturunan, hanya seekor kucing yang telah dipeliharanya sejak kecil yang sedikit menghilangkan kesepian di rumah tersebut.
Keduanya tiada henti-hentinya memohon agar segera dikaruniai keturunan. Setelah berbagai upaya dan doa dilakukan, akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan mereka, maka sang istri pun mengandung. Setelah tiba waktunya, sang istri pun melahirkan bayi yang sehat nan lucu. Namun kebahagian itu tidak belangsung lama, dikarenakan sang istri meninggal dunia ketika melahirkan bayi yang selalu didambakannya. Sehingga kini mereka kembali hidup bertiga yakni sang suami, bayi yang mungil dan seekor kucing kesayangannya.
Setelah berselang tiga bulan dari kejadian itu, pada suatu pagi yang cerah, sang suami hendak pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan sebagai bekal hidup mereka selama satu minggu. Karena sang istri telah tiada, maka ia sendiri yang melakukan hal tersebut. Namun sebelum berangkat ia memaggil kucing kesayangannya dan kucing itu pun bergegas menuju kepadanya. Maklum saja, kucing itu menjadi penurut karena sudah sejak kecil ia merawatnya. Karena kucing tersebut penurut seolah sang suami ingin sekali agar kucing itu menjadi teman bagi bayi kecilnya, serta ingin sekali kucing tersebut bisa menjaga bayi yang sangat didambakannya ketika ia pergi ke pasar.
Setelah sang suami menaruh bayinya yang berumur tiga bulan itu di dalam kamarnya maka berangkatlah ia, seolah ia mempercayakan bayinya itu kepada kucing yang penurut itu untuk menjaganya. Sesampainya di pasar, sang suami membeli barang-barang yang memang diperlukan untuk dirinya dan juga keperluan si kecil serta tidak ketinggalan juga makanan buat kucing peliharaannya.
Setelah keperluan belanjanya terpenuhi sang suami itu pun bergegas pulang karena ia merasa khawatir terhadap bayinya yang hanya sendirian dirumah dan hanya ditemani oleh kucing kesayangannya. Sesampainya di rumah ia membuka pintu pagarnya yang terbuat dari bambu itu dan terkejutlah ia dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata kucing kesayangannya yang dipercaya untuk menjaga si kecil sudah berada di depan rumah menyambut kedatangan tuannya, dengan mulut yang ternganga dan terlihat giginya yang tajam serta mulut yang blepotan darah segar. Sang suami pun berteriak histeris sambil mengambil tongkat pengunci pagar yang cukup besar, dan dipukulinya kucing tersebut dengan membabi buta. Kucing kesayangannya pun mengerang kesakitan. Seolah ayah sudah tidak mengenal lagi kucing yang telah dipeliharanya sekian lama. Pukulan keras dan bertubi-tubi itu selalu dilayangkan terhadap kucing tersebut, yang terpikir hanyalah bahwa kucing tersebut telah mencabik-cabik anaknya yang baru berumur tiga bulan.
Maklum saja ia melampiaskan kemarahan dengan membabi buta karena memang di rumah tersebut persediaan makan sudah habis semua dan sang suami berpikir kucing tersebut mungkin kelaparan. Sehingga ia memukuli terus kucing itu sampai berlumuran darah dan kucing itu pun terus mengerang kesakitan hingga tak berdaya akibat menjadi bulan-bulan emosi sang suami yang tak terkendali hingga kepalanya penuh dengan luka akibat pukulan sang suami.
Setelah emosinya tersampaikan dengan memukuli kucing tersebut bergegaslah ia masuk ke dalam kamar untuk melihat si kecil. Apa yang dilihatnya? Sang suami terbelalak matanya, ia tertegun berdiri di depan pintu kamar. Dilihatnya si kecil yang masih sehat dan lucu itu sedang tersenyum menatap dirinya. Segera ia mendekatinya dan betapa terkejutnya ia, ketika hendak menggendong banyinya, terlihat seekor ular yang mati dan berlumuran darah di dekat tempat tidur si bayi.
Oh… rupanya saat sang suami sedang meninggalkan rumah, kucing yang amat setia itu telah bertarung mati-matian dengan ular tersebut dan pada akhirnya ia mampu mengalahkan ular tersebut sehingga ular tersebut mati dikarenakan banyaknya luka akibat cabikan dan gigitan si kucing. Apa yang diperbuat sang suami? Segera ia mengambil anaknya dan menggendongnya kemudian ia keluar melihat kucing kesayangannya yang masih mengerang kesakitan dalam kondisi terkapar akibat pukulan sang suami yang membabi buta tadi dan tak lama kucing tersebut menghembuskan nafas terakhir.
Melihat peristiwa tersebut sambil menggendong anaknya sang suami menangis dan menjerit dihadapan kucing kesayangannya yang baru saja meninggalkannya buat selama-lamanya. Di hadapan kucing tersebut sang suami tertunduk sambil meminta maaf terhadap kucingnya yang telah berjasa menyelamatkan anaknya yang baru berumur tiga bulan itu dari gigitan seekor ular berbisa. Ia merasa berhutang budi dan merasa melakukan dosa besar telah menganiaya hewan kesayangannya, yang ternyata sangat setia menjaga amanah tuannya untuk menjaga bayi kecilnya tersebut. Namun penyesalan atas perbuatan terhadap kucing yang amat setia itu tiada berarti lagi lantaran kucing tersebut telah mati berlumuran darah akibat pukulan yang membabi buta dari tuannya.
Hikmah apa yang bisa kita petik dari sepenggela kisah di atas? Demikianlah gambaran betapa penyakit hati yang bernama su’u dzann (buruk sangka) hendaklah harus kita buang jauh-jauh dari diri kita. Lantaran karena berprasangka negatif sang suami tanpa kendali menghakimi kucing tersebut dengan pukulan yang bertubi-tubi tanpa mencari tahu terlebih dahulu apa yang terjadi sebenarnya.
Buruk sangka merupakan salah satu penyakit hati. Bilamana sifat ini ada dalam hati seseorang maka sudah pasti segala pemikirannya pun akan selalu negatif. Hal ini membuat situasi menjadi tidak sehat baik. Alangkah indahnya bila kita memiliki kebeningan hati, sebuah hati yang bebas dari penyakit, yang dengannya akan membawa ketenangan jiwa sehingga tidak akan pernah ada lagi yang namanya buruk sangka. Bisa kita bayangkan bilamana orang-orang yang ada disekitar kita memiliki hati seperti itu niscaya yang keluar adalah huznudzan (positif thingking) terhadap sesama.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(Al Hujuraat : 12)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s