Author Archives: walqalami

Hiduplah dengan penuh keyakinan

Standard

kemenangan hari ini bukanlah kemenangan esok hari

kegagalan hari ini bukanlah berarti kegagalan esok hari

hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti

usah kau menangisi hari kemarin

 

Lirik di atas merupakan penggalan lirik lagu Dewa 19 yang berjudul, hidup adalah perjuangan. Salah satu lagu dalam album bintang lima yang liris pada tahun 2000 yang merepresentasikan betapa hidup itu penuh dengan perjuangan.

Hidup bukanlah musibah yang harus diratapi keadaanya. Apa pun keadaannya hidup adalah anugerah yang layak disyukuri dan diperjuangkan, karena nikmat hidup bukanlah permintaan manusia, melainkan anugerah dan karunia dari sang pencipta. Selagi manusia diberi hidup sudah sepantasnya, ia memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, agar hidupnya bermakna.

Kenyataan hidup yang adalakanya tak sesuai dengan harapan sering kali membuat seseorang berputus asa dan menyerah begitu saja pada keadaan, hingga berujung pada mencela diri bahkan hingga mempertanyakan keadilan Tuhan. Memang hidup tidak semulus apa yang dibayangkan. Seringkali dalam kehidupan, seseorang mendapati jalan terjal, berliku, bahkan penuh dengan rintangan dan tantangan. Semua orang akan mengalaminya, namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana menyikapi keadaan tersebut. Sikap seorang pemenang akan selalu melihat kesempatan dalam kesempitan, sebaliknya sikap pecundang senantiasa melihat kesulitan dalam kesempatan.

Kehidupan akan selalu memberi pelajaran bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran. Siapa pun gerangan dapat meraih kesuksesan dalam hidupnya, asal ia mampu untuk memperjuangkannya. Beragam hikmah kehidupan senantiasa bertebaran di mana-mana. Saat sedang menemani ibu di rumah sakit, secara tak sengaja saya bertemu dengan sahabat lama.  Kehadirannya seolah menjadi reuni kecil yang mengingatkan saya tentang masa-masa menimba ilmu di bangku sekolah. Meski pertemuan tersebut tidak begitu lama, namun membuat saya mengenang bagaimana sejarah dirinya hingga menjadi sosok yang aktif bergerak di bidang kesehatan hingga saat ini.

Saat masih berada di bangku sekolah, keinginannya adalah menjadi insinyur mesin. Ia termasuk pribadi yang rajin dan juga cerdas, apalagi dalam mata pelajaran hitungan. Bahkan ia juga menambah belajarnya secara private dengan instruktur ahli. Semua diupayakan guna menyiapkan diri sejak dini agar bisa masuk di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang diharapkan.

Hasilnya memang terbukti, try out demi try out ia lalui dengan nilai yang pantas dan jarang mengecewakan, sampai lulus sekolah. Namun, justru saat ujian masuk perguruan tinggi negeri, keberhasilan tidak menyertainya. Persiapan yang telah direncanakan sejak di bangku sekolah menengah seolah sia-sia, mengingat ia gagal dalam ujian nasional masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu mungkin menjadi hari yang sangat menyakitkan, betapa harapan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yang dicita-citakan telah pupus. Masa-masa itu pun masih teringat jelas dalam ingatan saya, saat ia menceritakan atas apa yang ia alami, bahkan saat itu juga ia berpamitan bahwa ia akan hijrah meninggalkan Surabaya.

Hijrahnya di tempat yang baru, memaksa dirinya harus belajar ilmu baru. Di tempat yang baru itulah, ia memulai segalanya dari nol, termasuk mempelajari ilmu baru yakni Ortotik Prostetik. Selama tiga tahun ia mendalami ilmu tersebut dengan segala perjuangan, tidak hanya berjuang dalam hal belajar, ia pun juga berjuang bertahan hidup di ranah perantauan. Pahit getirnya perjuangan benar-benar ia rasakan justru saat ia jauh keluarganya. Seolah Allah hendak menjadikan momentum tersebut sebagai titik balik kehidupannya.

Perjuangan selama tiga tahun di rantau pada akhirnya pun membuahkan hasil. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya, ia  pun mendapatkan kesempatan mendalami ilmu tersebut di Belanda. Sebuah kesempatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dapat melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri. Selama di negeri kincir angin itulah  ia banyak menimba ilmu yang berkaitan dengan ilmunya, baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Bekal ilmu itulah yang menjadikan dirinya menjadi seorang ilmuwan sekaligus wirausahawan dalam bidang kesehatan. Sehingga kini ia memiliki usaha sesuai dengan disiplin keilmuan yang telah ia miliki, bahkan usahanya telah memiliki beberapa cabang. Di samping itu ia masih aktif berbagi ilmu dengan menjadi pengajar. Betapa perjuangannya selama ini terbayar sudah, lika-liku kehidupannya mengajarkan bahwa dibalik kesulitan akan selalu ada kemudahan. Pengalaman hidupnya pun mengajarkan saya bahwa seseorang wajib tetap berprasangka baik kepada Allah atas keadaan apa pun yang dialaminya, karena tak seorang pun tahu hadiah apa yang akan Allah berikan kepada hamba-Nya.

Boleh jadi apa yang kamu benci justru itu yang terbaik bagimu, dan boleh jadi apa yang kamu suka itu justru yang tak baik buatmu, Allah Maha Mengetahui, sedang manusia tak mengetahui, begitulah nasihat agama. Tugas manusia adalah memaksimalkan ikhtiar dan tetap menjaga prasangka yang baik pada-Nya.

Secara tidak langsung sahabat saya telah mengajarkan pada saya bahwa hidup butuh perjuangan tanpa henti. Agar harapan menjadi kenyataan, maka ikhtiar yang maksimal wajib diusahakan. Meski adakalanya kenyataan hidup tak sesuai harapan, butuh kebesaran jiwa untuk menerima kenyataan dengan hati yang penuh dengan keikhlasan. Seperti halnya dalam lirik lagu, kegagalan hari ini bukanlah berarti kegagalan esok hari. Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti

Semuanya itu menyadarkan bahwasanya tugas manusia adalah menyempurnakan ikhtiar. Sebagaimana halnya ungkapan mahfudzat, al insanu bi tadbir, wallahu bi taqdir (manusia boleh berencana, namun Allah menentukan). Sejatinya hidup adalah ujian, hiduplah dengan penuh keyakinan dan sebaik-baik sandaran hanya Allah Dzat yang memiliki segala kekuasaan.

Pelajaran dari sang guru

Standard

Suatu ketika ada seorang murid yang mempunyai kebiasaan tidak baik yakni sering berkata-kata kotor kepada temannya, apalagi ketika ia marah kata-katanya begitu pedas didengar, melihat keadaan muridnya itu, sang guru pun lantas memberikan beberapa paku dan menasehati muridnya sambil berkata “ bila hendak berkata kotor / menghina orang lain maka pakukan paku tersebut ke suatu balok kayu”

Hari pertama murid tersebut memakukan 15 paku, hari kedua 12 paku lama kelamaan  seiring berjalannya hari, murid tersebut membuat rekor yakni tak satu pun paku yang terpaku, itu artinya murid tersebut mampu menahan kebiasaan buruknya. Merasa berhasil mampu menahan kata-kata kotornya akhirnya murid tersebut memberitahukan kepada gurunya, lantas guru tersebut memerintah untuk mencabut semua paku-paku yang telah tertancap.

Setelah berhasil mencabuti paku-paku tersebut kemudian sambil melihat balok kayu tersebut sang guru berkata “ Hm… kamu telah berhasil muridku, namun coba kamu lihat lubang-lubang bekas paku tersebut, kayu ini tidak akan bisa kembali mulus seperti sediakala walaupun paku-paku yang ada telah engkau ambil, demikaian juga halnya ketika engkau mengatakan kata-kata kotor / menghina orang lain maka kata-kata itu akan menghujam dan membekas di hati orang yang kamu olok-olok sebagaimana lubang paku pada kayu balok itu. Boleh jadi kamu sering kali menghina orang lain dan selalu minta maaf kepada orang tersebut namun disadari atau tidak, sesungguhnya kamu telah menggoreskan luka di hatinya” demikianlah gambaran bilamana seseorang tak mampu mengendalikan lidah yang seringkali mencelakai pemiliknya semenjak kejadian tersebut murid tersebut menjadi sadar dan mulai meninggalkan kebiasaan buruk

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujurat : 11)

 

Sang suami dan kucing kesayangannya

Standard

Alkisah ada sebuah keluarga yang tinggal di suatu pelosok desa. Di rumah yang sangat sederhana itu hiduplah sepasang suami istri. Rumah tersebut sering terasa sepi, karena memang sudah lama keduanya belum dikarunia keturunan, hanya seekor kucing yang telah dipeliharanya sejak kecil yang sedikit menghilangkan kesepian di rumah tersebut.
Keduanya tiada henti-hentinya memohon agar segera dikaruniai keturunan. Setelah berbagai upaya dan doa dilakukan, akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan mereka, maka sang istri pun mengandung. Setelah tiba waktunya, sang istri pun melahirkan bayi yang sehat nan lucu. Namun kebahagian itu tidak belangsung lama, dikarenakan sang istri meninggal dunia ketika melahirkan bayi yang selalu didambakannya. Sehingga kini mereka kembali hidup bertiga yakni sang suami, bayi yang mungil dan seekor kucing kesayangannya.
Setelah berselang tiga bulan dari kejadian itu, pada suatu pagi yang cerah, sang suami hendak pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan sebagai bekal hidup mereka selama satu minggu. Karena sang istri telah tiada, maka ia sendiri yang melakukan hal tersebut. Namun sebelum berangkat ia memaggil kucing kesayangannya dan kucing itu pun bergegas menuju kepadanya. Maklum saja, kucing itu menjadi penurut karena sudah sejak kecil ia merawatnya. Karena kucing tersebut penurut seolah sang suami ingin sekali agar kucing itu menjadi teman bagi bayi kecilnya, serta ingin sekali kucing tersebut bisa menjaga bayi yang sangat didambakannya ketika ia pergi ke pasar.
Setelah sang suami menaruh bayinya yang berumur tiga bulan itu di dalam kamarnya maka berangkatlah ia, seolah ia mempercayakan bayinya itu kepada kucing yang penurut itu untuk menjaganya. Sesampainya di pasar, sang suami membeli barang-barang yang memang diperlukan untuk dirinya dan juga keperluan si kecil serta tidak ketinggalan juga makanan buat kucing peliharaannya.
Setelah keperluan belanjanya terpenuhi sang suami itu pun bergegas pulang karena ia merasa khawatir terhadap bayinya yang hanya sendirian dirumah dan hanya ditemani oleh kucing kesayangannya. Sesampainya di rumah ia membuka pintu pagarnya yang terbuat dari bambu itu dan terkejutlah ia dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata kucing kesayangannya yang dipercaya untuk menjaga si kecil sudah berada di depan rumah menyambut kedatangan tuannya, dengan mulut yang ternganga dan terlihat giginya yang tajam serta mulut yang blepotan darah segar. Sang suami pun berteriak histeris sambil mengambil tongkat pengunci pagar yang cukup besar, dan dipukulinya kucing tersebut dengan membabi buta. Kucing kesayangannya pun mengerang kesakitan. Seolah ayah sudah tidak mengenal lagi kucing yang telah dipeliharanya sekian lama. Pukulan keras dan bertubi-tubi itu selalu dilayangkan terhadap kucing tersebut, yang terpikir hanyalah bahwa kucing tersebut telah mencabik-cabik anaknya yang baru berumur tiga bulan.
Maklum saja ia melampiaskan kemarahan dengan membabi buta karena memang di rumah tersebut persediaan makan sudah habis semua dan sang suami berpikir kucing tersebut mungkin kelaparan. Sehingga ia memukuli terus kucing itu sampai berlumuran darah dan kucing itu pun terus mengerang kesakitan hingga tak berdaya akibat menjadi bulan-bulan emosi sang suami yang tak terkendali hingga kepalanya penuh dengan luka akibat pukulan sang suami.
Setelah emosinya tersampaikan dengan memukuli kucing tersebut bergegaslah ia masuk ke dalam kamar untuk melihat si kecil. Apa yang dilihatnya? Sang suami terbelalak matanya, ia tertegun berdiri di depan pintu kamar. Dilihatnya si kecil yang masih sehat dan lucu itu sedang tersenyum menatap dirinya. Segera ia mendekatinya dan betapa terkejutnya ia, ketika hendak menggendong banyinya, terlihat seekor ular yang mati dan berlumuran darah di dekat tempat tidur si bayi.
Oh… rupanya saat sang suami sedang meninggalkan rumah, kucing yang amat setia itu telah bertarung mati-matian dengan ular tersebut dan pada akhirnya ia mampu mengalahkan ular tersebut sehingga ular tersebut mati dikarenakan banyaknya luka akibat cabikan dan gigitan si kucing. Apa yang diperbuat sang suami? Segera ia mengambil anaknya dan menggendongnya kemudian ia keluar melihat kucing kesayangannya yang masih mengerang kesakitan dalam kondisi terkapar akibat pukulan sang suami yang membabi buta tadi dan tak lama kucing tersebut menghembuskan nafas terakhir.
Melihat peristiwa tersebut sambil menggendong anaknya sang suami menangis dan menjerit dihadapan kucing kesayangannya yang baru saja meninggalkannya buat selama-lamanya. Di hadapan kucing tersebut sang suami tertunduk sambil meminta maaf terhadap kucingnya yang telah berjasa menyelamatkan anaknya yang baru berumur tiga bulan itu dari gigitan seekor ular berbisa. Ia merasa berhutang budi dan merasa melakukan dosa besar telah menganiaya hewan kesayangannya, yang ternyata sangat setia menjaga amanah tuannya untuk menjaga bayi kecilnya tersebut. Namun penyesalan atas perbuatan terhadap kucing yang amat setia itu tiada berarti lagi lantaran kucing tersebut telah mati berlumuran darah akibat pukulan yang membabi buta dari tuannya.
Hikmah apa yang bisa kita petik dari sepenggela kisah di atas? Demikianlah gambaran betapa penyakit hati yang bernama su’u dzann (buruk sangka) hendaklah harus kita buang jauh-jauh dari diri kita. Lantaran karena berprasangka negatif sang suami tanpa kendali menghakimi kucing tersebut dengan pukulan yang bertubi-tubi tanpa mencari tahu terlebih dahulu apa yang terjadi sebenarnya.
Buruk sangka merupakan salah satu penyakit hati. Bilamana sifat ini ada dalam hati seseorang maka sudah pasti segala pemikirannya pun akan selalu negatif. Hal ini membuat situasi menjadi tidak sehat baik. Alangkah indahnya bila kita memiliki kebeningan hati, sebuah hati yang bebas dari penyakit, yang dengannya akan membawa ketenangan jiwa sehingga tidak akan pernah ada lagi yang namanya buruk sangka. Bisa kita bayangkan bilamana orang-orang yang ada disekitar kita memiliki hati seperti itu niscaya yang keluar adalah huznudzan (positif thingking) terhadap sesama.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(Al Hujuraat : 12)

Sayembara sang raja

Standard

Suatu kita ada seorang raja yg tengah mengadakan sayembara lukisan. Raja telah menyediakan hadiah yg lumayan besar bagi mereka yg bisa melukis tentang kedamaian. Mendengar sayembara tersebut banyak orang yg berbondong-bondong untuk mengikuti sayembara tersebut. Demi mendapatkan hadiah yg telah disediakan oleh sang raja.

Ternyata animo sayembara tersebut sungguh luar biasa. Banyak lukisan yg telah dihasilkan dari sayembara tersebut. Maka satu demi satu lukisan tersebut diseleksi hingga menyisakan dua lukisan saja. Lukisan pertama, benar-benar menggambarkan tentang kedamaian. Hal tersebut bisa dilihat dari gambaran telaga dengan airnya yg jernih bak cermin yg senantiasa memantulkan bayangan. Gunung-gunung menjulang tinggi seakan menjadi penopang hamparan bumi, langit yg terlukis cerah yang pasti ketika semua orang melihat lukisan pertama tersebut pastilah mereka menyangka bahwa lukisan tersebut adalah lukisan tentang kedamaian.

Sedangkan lukisan yg kedua menggambarkan tentang pegunungan juga namun yg membedakannya dari lukisan sebelumnya adalah gunung tersebut gundul dan tampak kasar, belum lagi gambaran kilat yg tengah meyambar serta adanya air terjuan yg airnya begitu deras hingga melahirkan buih-buih. Bagi kebanyakan orang lukisan ini tak tergambar sedikit pun adanya kedamaian. Namun bagi raja lukisan tersebut seakan ada sesuatu yg menarik. Hal itu adalah adanya seekor pipit di semak-semak bebatuan yg tengah mengerami telurnya dengan damai di balik derasnya air terjun.

Tahukah anda kira-kira lukisan mana yg menjadi pemenang sayembara tersebut?

Sesuai dengan tema sayembara tersebut yaitu kedamaian, sudah pasti yg menggambarkan kedamaian adalah lukisan yg pertama. Namun ternyata yg dipilih sang raja bukan lukisan yg pertama melainkan lukisan yg kedua. Semua warga pun terkejut dengan dipilihnya lukisan kedua sebagai pemenang sayembara itu. Setelah ditentukan sebagai pemenang raja pun memberikan komentar terhadap lukisan yg telah dipilihnya tersebut. Menurut raja kedamaian bukan berarti harus berada di tempat yang tanpa keributan. Kedamaian terletak pada hati yang tenang dan damai, meski keberadaannya berada di tengah-tengah keributan yang luar biasa. Hal itu di karenakan kedamaian hati adalah kedamaian sejati dan hal itu terlihat oleh raja dalam diri seekor pipit walaupun ia tengah berada di dekat derasnya air terjun namun ia tetap merasa nyaman dan damai.

 

Guru Kehidupan

Standard

Terik panas matahari begitu menyengat siang itu. Suara asam lambung seolah memberi isyarat waktunya makan siang. Bergegas aku keluar kantor untuk mencari makan siang di warung terdekat. Arah laju kendaraanku terhenti di warung yang sangat sederhana. Meski sederhana, warung tersebut terlihat bersih dan nyaman. Segera, aku memesan satu porsi buat makan siang. Tak lama pesanan itu telah siap saji. Penjualnya yang ramah membuat warung ini tak pernah sepi dari pembeli. Bu Sum, begitulah para pelanggan yang sering makan di warung itu memanggilnya. Ada beragam menu masakan yang tersedia di warung itu, mulai dari nasi pecel hingga makanan yang berkuah. Masakan Bu Sum bisa dibilang tidak sesederhana warungnya. Hampir semua menu yang tersaji di warung tersebut mampu menggoyang lidah.

Saat itu, setelah makan. Aku sempat melakukan obrolan ringan dengan Bu Sum. Spontan aku bertanya, sudah berapa lama ibu jualan nasi? Kurang lebih sudah 30 tahun mas, begitu jawabnya. Pertanyaanku yang singkat itu seolah memantik, perjuangan Bu Sum dalam menjalankan profesinya sebagai penjual nasi. Pasang surut pelanggan tidak membuat Bu Sum patah semangat untuk mencari nafkah buat menghidupi keluarganya. Maklum, suami Bu Sum sudah tua dan sudah lama tidak bekerja, sehingga Bu Sum yang menjadi tulang punggung keluarga. Dalam obrolan itu tak sengaja, Bu Sum mengisahkan perjuangannya agar dapat menyekolahkan dua anaknya melalui usaha jualan nasi.

30 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula ia bekerja keras membanting tulang sejak pagi buta hingga malam hari. Tiap pagi sekitar pukul 03.00 WIB Bu Sum telah memulai aktifitasnya untuk cuci-cuci peralatan dapurnya di tengah kedua anaknya yang masih terlelap tidur hingga menjelang subuh. Pergi ke pasar untuk belanja keperluan jualannya ketika hari masih gelap pun sudah menjadi kebiasaan Bu Sum. Sejak pagi hingga malam seolah tak kenal lelah berjualan demi dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Tak heran aktifitas yang sangat menguras tenaga itu, adakalanya membuat Bu Sum kecapekan hingga butuh istirahat dan tidur sejenak di siang hari ketika tidak ada pembeli. Walau hanya bermatraskan kursi panjang yang ada di warungnya ia mampu istirahat dengan pulas. “Maklum mas, sudah sejak dini hari bangun kemudian harus julan mulai pagi hingga malam, kadang ya ngantuk berat sehingga tidur seadanya” begitu katanya sambil tersenyum.

Menghidupi keluarganya dengan berjualan nasi, adakalanya tidak mencukupi. Meski begitu Bu Sum tetap memberikan harga yang murah dengan porsi yang banyak dengan beragam lauk pauk. Tak heran jika banyak dari pelangga Bu Sum adalah para pedagang kaki lima. Hal ini dikarenakan harganya terjangkau dengan kualitas rasa yang nikmat. Untuk menambah penghasilan, tak jarang Bu Sum juga rela mengumpulkan botol-botol bekas air mineral yang sudah tidak terpakai serta serpihan paku-paku. Maklum, di warung adakalanya botol-botol air mineral dalam kemasan yang seringkali menjadi sampah, perlahan sampah-sampah kering itu ia kumpulkan untuk dijual ke rombeng (pemulung). Demikian juga dengan paku-paku yang telah terkumpul banyak, hasil dari mengais di dapur, yang masih menggunakan tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Kayu-kayu yang menjadi bahan bakar tungku itu adakalanya masih tertancap paku-paku, setelah kayu itu menjadi abu barulah ia mengambil paku-paku yang ada itu dengan berbekal magnet, hingga terkumpul paku yang banyak dalam tiap bulannya. Hal ini pun juga tidak memberikan tambahan pemasukan yang signifikan mengingat hal tersebut tidak dapat diandalkan karena memang tidak setiap saat ada botol maupun paku.

Meski hanya mengandalkan jualan nasi sebagai sumber penghasilan, Bu Sum mampu menyekolahkan kedua anaknya bahkan hingga ke perguruan tinggi. Bisa dibayangkan hidup di kota besar dengan dua orang anak sementara suaminya sudah tidak bekerja. Bu Sum mampu tetap tegar menghadapi kerasnya kehidupan melalui jualan nasi. Memang akan selalu ada jalan bagi setiap niatan baik seseorang yang diikuti dengan usaha yang baik. Bu Sum memang berasal dari keluarga sederhana, bahkan ia pun tak pernah mengenyam pendidikan alias tak pernah sekolah sementara suaminya hanya seorang lulusan sekolah rakyat. Namun kegigihannya dalam bertekad agar dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi patut diacungi jempol, walau hanya bermodal jualan nasi.

Bu Sum memang tergolong orang yang ramah dan ringan tangan. Mungkin dari situlah banyak orang yang peduli dengannya. Meski, ia tergolong keluarga sederhana, namun ia selalu sempat berbagi kepada sesama. Keahliannya membuat racikan bumbu pecel pun dimanfaatkannya untuk memberi orang-orang tertentu yang telah memperhatikan keluarganya. Memang ada sekian banyak orang yang sangat membantu kehidupannya, orang-orang itulah yang sering kali Bu Sum usahakan memberikan bumbu pecel buatannya sebagai rasa terima kasih atas bantuan orang lain terhadap tetangganya.

Bu Sum juga mengisahkan, bahwa tetangganya juga banyak yang amat peduli dengannya. Memang kediaman bu Sum bisa dibilang belum representatif buat keluarganya namun apa mau dikata memang keadaan itulah yang harus ia jalani. Walau hidup di zaman modern, bu Sum juga belum memiliki listrik serta air PDAM sendiri di rumahnya, namun karena kepribadiannya yang ringan tangan, ada tetangganya yang memberikan sedekahnya berupa pemasangan listrik dan air pam tersebut. Tidak hanya itu kehidupan bu Sum juga banyak terbantu dengan kehadiran tetangga yang juga peduli kepadaya.

Meski tergolong keluarga sederhana dan tak pernah mengeyam pendidikan sekolah, bukan berarti Bu Sum tak bisa mendidik anaknya agar menjadi orang. Terbukti, kedua anaknya bisa dibilang sebagai anak yang baik, minimal tidak menyusahkan orang tuanya dan mampu mandiri meski orang tuanya tergolong orang yang tak punya. Masih teringat dalam benakku ketika Bu Sum sempat melontarkan filosofi hidupnya, “Urip kuwi sing penting sehat lan iso ngibadah” (Hidup itu yang penting sehat dan bisa beribadah). Itulah yang menjadi pegangan hidupnya. Kesehatan sebagai nikmat dari Tuhan tidak pantas untuk di sia-siakan dengan bermalas-malasan. Hendaknya nikmat itu menjadi modal ibadah mengabdi pada sang khalik serta menebar manfaat pada sesama. Hal inilah yang selalu di tanamkan pada anaknya sebagai bekal menapaki kehidupan.

Sungguh, obrolan ku dengan Bu Sum seolah mendapat pelajaran yang penting berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan. Pelajaran tentang arti kerja keras, kesabaran, keikhlasan aku dapatkan dari sosok yang tak pernah bersekolah di ruang kelas, namun ia bersekolah di ruang kehidupan. Itulah yang ku rasakan. Memang belajar tidak hanya terbatas pada sekat-sekat kelas melainkan kehidupan ini adalah sekolah yang tak bersekat. Demikian juga, setiap orang adalah guru, darinya kita dapat mengambil setiap pelajaran sebagaimana aku telah mengambil pelajaran dari seorang guru kehidupan yakni Bu Sum. Terima kasih Bu Sum.